Senin, 17 November 2008

Bisnis Pulsa

Bagaimana, Anda sebagai seorang peminat bisnis membaca data-data berikut ini. Menurut beberapa penelitian, seperti yang pernah dilansir oleh beberapa operator telepon seluler nasional seperti Indosat, Telkomsel, pengguna telepon seluler di Indonesia saat hingga akhir Januari 2005 telah mencapai 30 juta orang, dan diperkirakan pada akhir 2007 akan berkembang menjadi sebanyak 65 juta orang. Pertama tentu saja pertumbuhan konsumen telepon selular melampui perkiraan banyak orang. Terus pengguna telepon seluler ternyata melampaui pertumbuhan perkembangan telepon sambungan tetap (fixed line).
Menurut pengamatan Direktur Marketing PT Cendana Teknika Utama (CTU) Muhammad Rivai, sekitar 90% atau 27 juta konsumen telepon seluler ternyata lebih memilih produk kartu prabayar untuk mengisi pulsanya. Dengan fakta stastik inilah, maka CTU yang memproduksi produk-produk elektronika kontrol dan teknologi informasi (TI) di kota Malang mencoba berinovasi.

Sehubungan layanan isi ulang telepon tanpa kabel ini kini berkembang bisnis turunannya. Selain yang telah diketahui selama ini –dengan membeli kartu dan pengisisian elektronik—kini ada layanan isu ulang baru yang potensial menjadi bisnis baru. Nah layanan itu adalah mengisi pulsa sendiri dengan model layanan seperti cara kerja warung telekonomikasi (wartel). Inilah produk baru yang diluncurkan oleh PT CTU melalui produknya yang dirilis dengan nama Cendana 2000. Alat ini hakekatnya adalah perangkat kios pulsa yang diisi sendiri oleh konsumennya.

Prinsip kerja kios pulsa dan SMS Swalayan ini dapat dikatakan hampir mirip seperti perangkat wartel. Begitu selesai isi pulsa, alat akan mencetak nota dan langsung bayar ke kasir. Bila selama ini pelanggan yang datang ke counter HP, pulsa yang dibeli biasanya berupa kartu atau diisikan oleh petugas. Pada kios pulsa swalayan tadi, konsumen yang input nomor HP miliknya. “Alat akan mengenali jenis kartu yang digunakan dan selanjutnya akan menampilkan pilihan denominasi serta harganya, setelah itu alat akan memverifikasi pilihan pulsa dan nomor yang dimasukkan. Setelah ok alat akan langsung mengorder ke server pulsa Cendana, dan begitu selesai printer akan mencetak bon secara otomatis,” lanjutnya.

Menurut Rivai penemuan alat ini dilatarbelakangi oleh beberapa kondisi. “Kami melihat semakin merosotnya pendapatan dari para pengusaha wartel. Lalu kami melakukan survey/polling ke sekitar 200 pengusaha Wartel di Malang. Hasilnya, sekitar 95% menginginkan adanya varian layanan dilokasi usaha mereka,” katanya. Dengan argumentasi bahwa wartel sebagai fasilitas layanan telekomunikasi umum yang sudah lama eksis, dan di sisi lain melihat perkembangan bisnis telepon seluler semakin hari semakin meluas membuat perusahaan tersebut turut andil di bagian hilir bisnis. Dan dari situ tercetus ide untuk membikin alat komunikasi lewat short message service (SMS) publik serta penjual voucher elektrik swalayan,” tambahnya.

Alasan di atas diperkuat data yang dipublikasikan bahwa pendapatan operator telepon selular dari setiap pelanggan adalah sekitar Rp 88.000- Rp 123.000/bulan. Dengan mengambil rata-rata sebesar Rp 100.000, berarti uang yang beredar dalam penjualan pulsa prabayar per bulan dari 27 juta pelanggan adalah sebesar Rp 2,7 trilyun. “Perkembangan jumlah pelanggan yang semakin banyak dan jumlah wilayah yang semakin luas, tentunya juga dibutuhkan jaringan distribusi pemasaran pulsa yang lebih banyak juga,” dalihnya.

Kondisi di atas ternyata didukung oleh fakta di lapangan bahwa di antara dua jenis cara pengisian pulsa, yakni antara membeli kartu dengan isi ulang secara elektronik, pengguna handphone lebih merasa nyaman ketika melakukan isi pulsa dengan isi ulang elektrik. “Terbukti pula bahwa pengisian pulsa secara elektronik merupakan solusi efektif dan efisien untuk memotong biaya distribusi berantai, memangkas berbagai macam bentuk pemalsuan voucher serta biaya produksi yang tinggi,” imbuhnya.

Menurut Rivai pasar produknya selain melayani pemilik telepon selular prabayar untuk isi ulang pulsa, produk yang dilaunching pada bulan Mei 2005 tersebut, juga untuk melayani komunikasi SMS bagi yang tidak memiliki ponsel . “Sedangkan bagi pengusaha wartel dapat memperoleh tambahan income dari fitur produk ini,” tambahnya.

Sebagaimana bisnis dengan konsep swalayan yang telah berkembang pada berbagai bidang lain seperti toko ritel, layanan ATM bank, Rivai berharap agar swalayan isi ulang pulsa prabayar juga menjadi peluang bisnis baru bagi pemilik wartel, counter HP, koperasi, mini market, rumah penginapan, tempat kos, dan restoran. “Terutama outlet-outlet di lokasi strategis padat pengunjung seperti terminal, stasiun, mall, tempat wisata, tempat hiburan dan sebagainya,” paparnya. Sejak diluncurkan Mei lalu, penjulan produk ini terus membaik. “Volume penjualan terus mengalami peningkatan antara 50 - 100 unit perbulan,” akunya.

Fitur lain yang tersedia dari Cendana2000 ini adalah kirim/ terima SMS. Artinya pelanggan dapat menggunakan alat tersebut untuk mengirim atau menerima pesan pendek dengan tarip tertentu. “Pengiriman SMS bisa pada satu tujuan atau banyak tujuan atau partai, sedangkan kiriman SMS bisa dicetak atau cukup dibaca di layar,” jelasnya.

Tertarik? Kalau tertarik Rivai memberikan gambaran investasinya. Besar biaya investasi untuk satu paket lengkap adalah Rp 2.150.000. Dana ini sudah termasuk alat, deposit pulsa sebesar Rp 250 ribu dan kartu perdana As untuk mendukung operasional pertama. “Penambahan untuk setiap satu buah KBU adalah sebesar Rp 850 ribu,” ucapnya. Disamping itu masih terdapat program-program khusus dengan pemberian harga diskon. Peluang lain untuk menjadi pertimbangan.

Leha2..Salon n spa

Budi Utoyo sukses membangun spa untuk konsumen kelas menengah. Sebuah ide bisnis yang layak ditiru untuk bidang yang lain. Ada peluang untuk membeli franchisenya.
Kesibukan kerja yang mendera masyarakat kota besar, Jakarta khususnya, menjadikan keinginan untuk sesekali bersantai sudah seperti kebutuhan. Kondisi ini memicu munculnya berbagai tempat relaksasi, salah satunya spa. Tetapi, sejauh ini, belum banyak spa yang ditangani dengan benar atau menyediakan fasilitas sesuai dengan namanya. Seperti diketahui, di kota metropolitan ini, banyak dijumpai tempat relaksasi yang mengatasnamakan spa, tapi ketika masuk ke dalamnya yang ditemui justru sebaliknya. Istilah kerennya spa plus.

Di sisi lain, spa yang bertebaran di ibukota negara ini cenderung ditujukan bagi kalangan menengah ke atas. Misalnya, Martha Tilaar Day Spa yang sangat eksklusif dan hanya dapat dijumpai di kawasan-kawasan mentereng. Sehingga, tidak semua orang bisa merasakan bagaimana nikmatnya fasilitas spa. Padahal, keinginan untuk rileks adalah milik semua orang. Di samping itu, dari segi bisnis, begitu eksklusifnya spa semacam ini sehingga balik modalnya sangat lama dan sulit dideteksi. Kondisi ini memunculkan inspirasi dalam benak Budi Utoyo, pemilik Leha-leha Day Spa, untuk membangun spa yang “ benar” dengan fasilitas kelas atas tapi dengan tarif kelas menengah.

Mengapa kelas menengah yang dibidik? “Sebab, melayani masyarakat kelas atas itu susah, padahal market mereka tidak besar. Di sisi lain, jangkauan saya adalah lima tahun ke depan, di mana spa sudah menjadi bagian dari kebutuhan pokok. Sehingga, saya harus sangat serius merintisnya,” ujar Budi.

Untuk itu, pada 24 Juli 2004, Budi membangun Leha-leha Spa di atas ruko bertingkat dua seluas 5x15 m². Berbeda dengan spa-spa pada umumnya, selain menyediakan massage, manicure, pedicure, dan sebagainya, spa yang berlokasi di Kalimalang ini juga menyediakan fasilitas slimming spa dan body counturing, serta whitening spa. Slimming spa memberi janji berupa lingkar perut berkurang minimal 3 cm untuk sekali treatment. “Wanita mana yang tidak tertarik dengan penawaran ini?” katanya, bangga.

Slimming spa dan body counturing ini menggunakan tiga metode yaitu parafango (metode pengurangan ukuran lingkar tubuh dan selulit dengan menggunakan parafin), fitness wrap bandages (metode pengurangan ukuran lingkar tubuh dan selulit dengan sistem pembalutan), dan aromatic sculpture (metode pengurangan ukuran lingkar tubuh dan selulit dengan mengandalkan berbagai macam aromaterapi). Kepada mereka yang ingin merasakan berbagai perawatan ini, Budi mengenakan Rp50 ribu hingga Rp450 ribu, tanpa mengurangi kualitas produk.

Tidak rugi? “Penekanan saya pada investasi tempat,” ujarnya. Budi membandingkannya dengan Martha Tilaar Day Spa. Dengan selalu mengambil tempat-tempat mahal sebagai lokasinya, spa ini membebankan franchise fee sebesar Rp1,5 milyar di luar bangunan dan dengan BEP lima tahun. “Siapa yang mau menunggu lima tahun hanya untuk balik modal? Karena, biasanya BEP tercapai setelah dua tahun beroperasi,” jelasnya.

Sedangkan untuk Leha-leha Day Spa, franchisee cukup merogoh kocek sebesar Rp350 juta, membayar royalti fee 5% per bulan, dan jaminan akan BEP dalam tempo satu tahun. “Kami juga membangunkan interior dan menyediakan produknya, serta memberi pelatihan gratis kepada para terapisnya langsung di bawah bimbingan dokter,” ucapnya. Sebagai informasi tambahan, Budi memproduksi sendiri 14 produk perawatan kecantikan dan kesehatan untuk spa ini, seperti susu pembersih, sabun muka, toner, krim, gel, bedak, dan tonik rambut dengan harga Rp20 ribu–Rp50 ribu per buah.

Investasi di Spa ini mungkin terbilang paling murah di kelasnya. Sebab, untuk membangun Gaya Spa (spa yang diakui Budi selevel dengan spanya, red.) saja dibutuhkan investasi sebesar Rp600 juta. Padahal, Leha-leha Day Spa sudah menggunakan SG2000 untuk berendam, sedangkan Gaya Spa masih menggunakan whirpool. Leha-leha Day Spa memiliki Slimming Spa, sedangkan Gaya Spa tidak memilikinya. Martha Tilaar Day Spa memilikinya, tetapi harganya hanya bisa dijangkau masyarakat kelas atas.

Dalam hal pemijatan, para terapis spa yang masih dikhususkan buat wanita ini diajari langsung oleh dokter. Sehingga, cenderung mengandung unsur medis, bukan sekadar relaksasi. “Untuk tujuan yang berbeda, menggunakan terapis yang berbeda pula,” jelasnya.

Selain spa, Budi juga menjual franchise Klinik Kecantikan dan Kesehatan dr. Yati Utoyo (bersama sang istri), dengan “harga” Rp500 juta. Klinik yang telah berdiri pada 1999 ini berfungsi saling melengkapi dengan spa yang kini memiliki cabang di Cikarang dan Bumi Serpong Damai. “Konsep kami memang one stop shopping di bidang kecantikan dan kesehatan,” kata Budi yang kini memiliki 600 konsumen tetap. Sekadar informasi, Leha-leha Day Spa berencana membuka cabang di Kota Palembang, Yogyakarta, Surabaya, Purwokerto, Semarang, Solo, dan lain-lain.

Untuk melebarkan pasar, spa yang beromset Rp60 juta–Rp80 jut per bulan ini menggunakan marketing with love. Artinya, konsumen dilayani dengan baik, diberi penjelasan secara rinci tentang masalah penyakit atau gangguan di tubuh mereka, mengundang mereka dalam acara-acara keluarga, dan memperlakukan “pasien” seperti saudara. “Singkat kata, berbisnis dengan hati untuk membangun kebersamaan,” jelas Budi yang spanya dikunjungi 50–100 konsumen per hari. Peluang bisnis yang menjanjikan.


Spa Leha-leha & Klinik Kecantikan Dr. Yati Utoyo
Komplek BSK Blok B No. 4K.H Noer Ali,
Jl - Kalimalang, Bekasi 17114
Telp. 021-88950934Fax. 021-88952042

Ir. Budi & Yati Utoyo alumnus EU 29

ANALISIS
Investasi
Untuk Spa Rp.350.000.000,-
Untuk Klinik Rp.500.000.000,-
Total investasi Rp.850.000.000-
Sewa Ruko u/ 1 tahun pertama Rp.60.000.000,-
Total dana yang harus dimiliki Rp.910.000.000,-

Perkiraan pendapatan per bulan:
Perawatan spa dan klinik Rp. 90.000.000,-
Penjualan obat-obatan Rp.12.500.000,-
Total Pendapatan per bulan Rp.102.500.000,-

Perkiraan biaya sebulan :
Sewa ruang Rp. 5.000.000,-
Gaji Karyawan
2 orang dokter @ Rp. 3.000.000,- Rp.6.000.000,-
2 orang perawat @ Rp. 1.250.000,- Rp.2.500.000,-
1 supervisor @ Rp. 1.500.000,- Rp.1.500.000,-
5 Therapis @ Rp. 800.000,- Rp.4.000.000,-
1 Keuangan @ Rp. 1.000.000,- Rp.1.000.000,-
2 Adm. & Kasir @ Rp. 800.000,- Rp.1.600.000,-
2 Office boy & Kurir @ Rp. 750.000,- Rp.1.500.000,-
Pembelian produk perawatan & obat2an Rp. 32.000.000,-
Listrik, air dan telepon Rp.3.000.000,-
Fee manajemen & marketing Rp.2.700.000,-
Royalty fee (5% dari omzet) Rp.4.500.000,-
Perawatan & kebersihan fasilitas Rp.1.000.000,-
Total Biaya Rp.66.800.000,-
Keuntungan per bulan Rp.35.700.000,-

Perkiraan balik modal (ROI) =
Rp. 850.000.000,- - Rp. 35.700.000 = 23,81 bulan = 2 tahun

Apotek K-24

BISNIS APOTIK 24 JAM ala K24

Meski sebagai pendatang baru di bisnis apotik dengan pola waralaba tetapi K24 merupakan apotik pertama yang buka 24 jam non stop, untuk buka non stop sedikitnya memperkerjakan 15 karyawan dengan system shift. Dengan Jumlah obat yang dijual di outlet minimal 5,800 item. Omzet rata rata bisa mencapai antara Rp 270 ~ Rp 300 juta per tahun dalam setiap satu outlet.

Tinggi nya penjualan selain factor jam buka yang 24 jam, adalah karena lokasi apotik K24 yang berada pada traffic yang ramai dan padat pemukiman, selain itu dalam sisi harga juga cukup bersaing. “Kami hanya menjual obat yang terdaftar resmi dan telah memperoleh izin dari pemerintah, dan lagi harga selalu sama baik penjualan pada saat subuh, pagi, siang, sore ataupun malam hari” ujar Gideon pemilik franchise apotik K24.

Dari segi investasi buka apotek K24 tergolong lebih murah dibanding waralaba apotik asing, untuk franchise fee K24 sebesar Rp60 juta untuk masa kontrak 6 tahun. Sedangkan royalty fee mitra cukup membayar 1,2 persen dari penjualan sedangkan apotik waralaba lain mengenakan royalty fee sebesar 3~4 persen. Menurut Gideon, royalty fee 3~4 persen untuk apotik adalah berat, makanya K24 hanya mengenakan 1,2 persen.

Untuk membuka outlet apotik K24, minimal membutuhkan area sekitar 60 meter persegi, dan juga harus merenovasi ruangan yang biayanya bisa sekitar 30 juta, lantas menyediakan “cash liquidity asset” di bank yang sekitar 60 jutaan.

Biaya perlengkapan mulai dari furniture, AC, Rak kaca, telepon, ATK, biaya launching awal yang biasanya diadakan pengobatan gratis untuk mengundang pengunjung, ini sebesar Rp 10 juta, dan biaya lainnya., yang kalau ditaksir modal awal buka usaha K24 ini mencapai 615 juta.

Dukungan operasional akan diberikan kamtor pusat yang berada di yogyakarta, meliputi pelatihan karyawan, pendampingan operasional hingga pembukuan, jaminan supply produk dan juga dukungan dan manajerial hingga promosi

Dari Pengalaman outlet yang sudah berjalan, membuka apotik K24 secara bisnis BEP 3 tahun, dimana pada tahun pertama dan kedua masih rugi dan tahun ketiga baru BEP, dengan asumsi modal awal dikeluarkan 615 juta.


ANALISA KEUANGAN APOTIK K24 JAM

A. INVESTASI AWAL

- Franchise Fee Rp 60,000,000
- Renovasi Ruangan RP 30,000,000
- Beli Peralatan Dan Perlengakapn Kerja ( Furnitur, AC, Komputer, Etalase dll)
Rp 240,000,000
- Sewa Tempat Usaha (misal 6 tahun) Rp 200,000,000
- Biaya Launching Usaha Rp 10,000,000
- Dana Liquid Cadangan Rp 60,000,000

------------------
TOTAL BIAYA I Rp 600,000,000


B. BIAYA – BIAYA

- Tenaga Kerja 15 Orang Rp 9,000,000
- Listrik dan Telepon Rp 3,000,000
- Biaya Antar Delivery & ATK Rp 1,000,000
- Lain Lain Rp 2,000,000

--------------------
TOTAL BIAYA II Rp 15,000,000


C. HARGA POKOK STOK OBAT OBAT Rp 112,000,000

D. PENJUALAN Buka 24 Jam selama 30 hari Rp 150,000,000

Maka Projected Income Perbulan adalah D – C – B = Rp 25,000,000

Atau Sekitar 300,000,000 (300 Juta ) per tahunnya, maka BEP kira kira 3 tahun